Senin, 21 Mei 2012

Tersimpang

Apakah ini sayang? Tetiba kau menaruh sesuatu di tapak tangan kecilku. Sesuatu yang segera terasa hangat membungkus kulit dan menembus hati. Cintakah? Ah, sepertinya terlalu mendayu jika disebut begitu. Lagipula, hatiku ini terlanjur terlalu keras untuk merasa cinta seperti yang banyak orang rasa dan cerita. Jadi apa ini? Sepotong asa? Bolehlah jika kita sebut demikian. Karena memang hanya sepotong kecil saja besarnya. Kecil dan tidak penting. Sungguh, tidak penting. Sebegitu tidak pentingnya hingga kuuntai menjadi bandul, supaya dekat dengan degup hati. Sebegitu tidak pentingnya hingga bisa buat aku menyungging senyum meski mukaku terserang telak buliran badai pasir. Sebegitu tidak pentingnya hingga bisa membuat kaki gontaiku tetap melangkah pulang, meski kepala dan pundakku yang rapuh terpapar deras hujan. Jadi, kutanya lagi padamu sayang, apakah ini?

Siapakah kau ini sayang? Tetiba kau datang, memotong perhatianku ditengah alur rutinitas yang berbuah lelah lagi membosankan. Saat malam tiba, kau telah berdiri di situ, menungguku. Kau nyalakan deretan lampu kota. Lalu kau menggamit tanganku tanpa permisi untuk berjalan bersamamu di tengah kilau dan kerlipnya. Kau peluk aku erat sayang, seketika tulang-tulang lelahku berangsur menghangat dan menguat. Kau genggam tanganku dan sentuh punggungku, dimana setiap sentuhannya menjejakkan lapisan kulit yang membahagia. Tapi kenapa aku tidak bisa menyentuhmu sayang? Di saat aku mencoba mengusap pipimu, segera saja aku ternyata hanya menggengam angin. Wujudmu segera mundur, perlahan menghilang dengan meninggalkan raut senyum tipis khasmu itu. Senyum tipis yang aku benci namun juga aku rindu, karena aku tahu itu pertanda kau akan sejenak pergi. Aku tidak tahu dimana kamu, tapi kamu selalu bisa temukan aku. Aku benci kamu sayang, karena kamu tahu dengan tepat bagaimana membuatku lepas berderai tawa, namun juga membuatku menahan butir air di sudut mata. Jadi, kutanya lagi padamu sayang, siapakah kau ini?

Apakah kita ini sayang? Tetiba kita bertemu di jalan bersimpang. Berdua kita bukan tokoh utama dari sebuah kisah cinta yang manis. Jelas bukan. Karena kau sudah punya cerita cintamu, dan pun aku dengan kisah cintaku. Kita hanyalah manusia-manusia korban dari guyonan nasib yang sama sekali tidak lucu. Jadi, apakah kita ini sayang? Kait jalan bersimpang ini bergerak menjauh, di saat simpulku denganmu justru semakin menghubul erat. Inilah yang membuat aku sedih sayang, bukan karena yang lain. Belum puas aku nikmati cahaya kota berdua denganmu. Belum selesai aku ingin dipeluk hangat olehmu. Dan belum rela aku untuk melepas potongan asamu dari tanganku. Aku merasa ini belum seharusnya selesai sayang. Jadi, biar ku bertanya padamu sayang. Kita terpisah kini, namun suatu hari nanti, akankah kita tersimpang lagi?

Kamis, 19 April 2012

Nasi Tim

Dua bulan sebelumnya, pertigaan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat
Saya sedang menunggu salah satu makanan favorit saya, nasi tim, disiapkan dan dibungkus untuk dibawa pulang. Lokasi kedainya ada di pertigaan Bendungan Hilir, di depan sebuah restoran Asia yang sepi pengunjung. Sudah larut malam, sekitar jam sebelas. Tiba-tiba perut saya keroncongan, dan saya ingin makan yang hangat-hangat.

Sembari menunggu, saya melontarkan beberapa pertanyaan kasual kepada si mbak-mbak penjual. Dia menjawab ramah dengan logat Jawa pesisir yang kental bak kopi tubruk. Dia menjelaskan panjang lebar mengapa harga satu porsi nasi tim yang dia jual bisa sebesar itu, dengan nada seperti orang yang bersungguh-sungguh meminta maaf. Padahal menurut saya harganya cukup rasional dan masuk akal. Tidaklah mahal.
Saya suka berbincang dengan si mbak penjual nasi tim. Dia lebih muda dari saya. Dia nampak bahagia dengan apa yang dia kerjakan, bahagia dengan pakaian yang dia pakai, bahagia dengan gelang warna-warni yang suka dia gerak-gerakkan dengan mengayun-ayunkan pergelangan tangannya. Dia nampak bahagia dengan dirinya. Sepertinya dia lebih bahagia daripada saya, yang kadang masih suka mengeluh dan mengumpat untuk hal-hal kecil tidak penting lagi bodoh.

Sebulan sebelumnya, pertigaan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat
Saya sedang kebingungan mencari kedai kecil nasi tim langganan saya. Kedai itu raib entah kemana. Restoran Asia di belakang kedai pun sudah berubah menjadi sebuah convinience store yang sedang marak menjamur di Jakarta. Namanya merupakan deretan angka. Tempat dimana pemuda dan pemudi labil ibukota gemar menghabiskan waktu nongkrong di pelatarannya. Sebuah informasi saya dapat dari seorang tukang parkir di area itu, bahwa semua warung makanan pinggir jalan di sekitar convinience store telah digusur, demi kenyamanan pengunjung. Bapak tukang parkir tidak tahu kemana warung makan-warung makan itu berpindah. Lelah mencari tanpa hasil, gontailah saya berjalan pulang.

Malam itu, pertigaan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat
Saya sedang menunggu salah satu makanan favorit saya, nasi tim, dipersiapkan dan dibungkus untuk dibawa pulang. Lokasi kedainya ada di pertigaan Bendungan Hilir, beberapa meter dari sebuah convinience store yang sedang marak menjamur di Jakarta. Sudah larut malam, sekitar jam sebelas. Tiba-tiba perut saya keroncongan, dan saya ingin makan yang hangat-hangat.

Usut punya usut, ternyata Ibu RT setempat memperjuangkan nasib para penjaja makanan pinggir jalan ini. Akhirnya manajemen convinience store mengijinkan mereka kembali berjualan, namun lokasinya sedikit bergeser beberapa meter dari lokasi semula. Ujar si mbak penjual nasi tim:

“Ndak popo lah Mas. Yang penting tetep bisa cari duit.”

Saat sedang menunggu nasi tim saya dihangatkan, tiba-tiba saya mendengar keributan di depan convinience store. Seorang pria berpakaian perempuan yang membawa kotak radio di lengannya, sedang bersitegang dengan seorang security.

"Tidak boleh mengamen di depan toko! ujar si security.

Semakin panas, tidak lagi hanya beradu mulut, kedua pihak sudah mulai beradu pukul, yang melibatkan pihak-pihak lain seperti tukang parkir dan pemuda-pemuda kampung yang berhamburan keluar mendengar keributan. Dikeroyok ramai-ramai, nampak jelas bogem-bogem mentah mendarat telak di pipi, dagu, dan perut si pria berpakaian perempuan, sampai datang pihak-pihak lain memisahkan perkelahian. Si pria berpakaian perempuan terseok mengambil radio bututnya yang tadi terjatuh, dan memungut sepatu manik-maniknya yang tadi terlepas. Pembuluh darah di bibirnya pecah. Dengan suara sedih getir bercampur menahan sakit, si pria berpakaian perempuan berteriak lantang diiringi sedikit isakan:

“GUE CUMA CARI DUIT.”


Kita semua, akhirnya, hanya mencari uang. Dengan cara yang kita tahu, dan dengan daya yang kita bisa.

Bus

Tiba-tiba muncul gambar semacam bunga di sudut logo twitter di handphone saya. Ini menunjukkan bahwa seseorang mencantumkan nama akun saya dalam kicauan yang baru saja dibuatnya.

Dari seorang teman ternyata. Ia membalas kicauan saya sebelumnya tentang pernyataan saya, yaitu bahwa saya menempuh perjalanan ke kantor dengan menggunakan transportasi umum alih-alih transportasi milik pribadi. Dalam kicauannya dia menanyakan pernyataan saya, mengapa saya yang sudah berstatus junior manager masih bersusah-susah menggunakan transportasi umum Jakarta yang jauh dari definisi aman dan nyaman. Dia juga menanyakan mengapa saya tidak punya mobil pribadi.

Bersegeralah saya menjawab: “Saya melawan tuntutan imej. Daripada tidak punya uang tapi berlagak kaya.” Kalimat kedua yang saya tulis dalam kicauan saya mungkin sedikit keras, namun bukan dimaksudkan untuk menyindir teman saya itu, atau siapapun. Kalimat ini saya buat berfungsi untuk memperkuat kalimat sebelumnya, fakta bahwa kita hidup disebuah situasi dimana bingkai-bingkai imej merupakan sebuah patokan definisi diri.

It’s no longer “you are what you think” but “you are what you have”.

Puji syukur atas karunia Tuhan yang maha pemurah, bahwa dijenjang usia saya sekarang, saya punya sedikit sisa dari pendapatan bulanan saya untuk berinvestasi atau membeli benda-benda tersier. Saya pernah membuat semacam daftar alasan, untuk diri saya sendiri, mengapa saya harus punya mobil. Karena mobil bukanlah barang murah -paling tidak untuk saya- saya pikir saya harus punya legitimasi yang kuat mengapa saya harus punya mobil, dan mengapa tidak harus. Setelah pikir punya pikir, ternyata alasan pertama yang muncul di kepala saya sama persis seperti kicauan teman saya.

“Saya kan sudah jadi junior manajer sekarang, masa tidak punya mobil”.

Alasan utama dan pertama dalam benak saya ternyata berkaitan dengan imej mobil sebagai barang mewah, alih-alih fungsi asli mobil itu sendiri sebagai alat transportasi. Karena saya punya kecenderungan untuk tidak mengamini imej-imej yang diusung oleh khalayak ramai, maka saya memutuskan bahwa transportasi umum Jakarta cukuplah bagi saya. Toh sewaktu kuliah di Jogja saya pergi kemana-mana naik bus. Jadi kalau dulu bisa, mengapa sekarang tidak? Terlepas dari apapun status saya dulu dan sekarang, mahasiswa atau manajer.

Suatu hari di kantor, saya diserang daftar pekerjaan yang panjang. Jadinya saya pulang sedikit larut, jam setengah sepuluh. Bus yang saya naiki sudah jauh lebih sepi penumpang dibanding saat jam-jam pulang kantor. Saya amati hanya ada tiga orang di dalam bus malam itu. Tiba-tiba bus berhenti mengangkut penumpang. Naiklah seorang ibu-ibu tua. Bukannya duduk, dia berdiri di dekat pintu masuk dan mulai bernyanyilah dia. Mau tidak mau saya memperhatikan si ibu pengamen ini. Usianya sekitar lima puluh tahunan. Rambutnya panjang dikucir kuda ditarik rapih kebelakang. Ia menggunakan kemeja warna biru muda, dan celana bahan yang sudah pudar warna gelapnya. Sendal jepit hijau membingkai kakinya. Pipinya bengkak di sebelah kanan, dan suaranya jelek.

Malam sudah larut, dan dia sudah tua. Melihat si ibu pengamen, tiba-tiba saya sedih dan teringat Ibu saya. Ibu saya yang sama tuanya, ibu saya yang akan melakukan apapun untuk menyuapi mulut anak-anaknya. Sedih namun juga bersyukur bahwa bukan ibu saya yang harus berdiri dan berdendang serak di bus, melawan malam untuk segenggam uang. Karena nasib orang tidak ada yang tahu, saya juga sedih membayangkan jika andaikata –semoga tidak- nasib saya dikala tua tidak seberuntung sekarang. Andaikata –semoga tidak- nasib memaksa saya harus mengamen di atas bus disaat seharusnya saya sudah bergelung nyaman di atas kasur, memanjakan ketuaan saya.

Sekarang si ibu sedang menghitung pendapatan atas jualan suaranya. Saat sedang asik menghitung receh dan sedikit lembaran uang kertas di tangan, tiba-tiba, entah mengapa pintu bis lepas dari engsel-engselnya, ujungnya menimpa lengan si Ibu. Dia berteriak kesakitan, kemudian mengelus-elus lengannya yang nampaknya ngilu.

Di ujung jalan si ibu turun dari bus. Bukannya menghentikan bis dengan benar, sopir bus hanya memelankan laju bus, sehingga si ibu terhuyung-huyung ke depan hampir jatuh saat turun. Tidak ada keluhan keluar sedikitpun dari mulutnya. Sama seperti saat lengannya tertimpa pintu bus pun, dia hanya melenguh kesakitan sebentar, dan kembali diam. Mungkin dalam hidupnya dia pernah melalui hari-hari yang jauh lebih berat, jadi apa yang terjadi malam itu hanya seperti gigitan semut merah baginya. Saya masih memperhatikan si ibu pengamen, sampai sosoknya hilang masuk kedalam gang.

Saya sedih malam itu.

Minggu, 26 Februari 2012

Jogja VS Jakarta

JOGJA. Dimana semua orang sudah mempunyai tempat dan perannya sendiri-sendiri. Di kota ini, kacamata penduduknya bervariasi. Raut mukanya menunjukkan kepahaman dan memaklumi, bukan tidak peduli. Tidak perlu berlari, karena progres manusianya selaras dengan progres kota ini.

JAKARTA. Dimana semua orang harus berusaha diri untuk memenuhi standar kesombongan kota ini. Jika tidak bisa menembus standar, maka cibir cemooh, harus siap kita terima. Bagusnya, kita dituntut untuk selalu berprogres dan berproses. Selalu berlari dan berkeras hati.

JOGJA. Kota dengan sebuah lapisan pelindung. Lemparilah penduduknya dengan cibiran dan kotoran dunia, maka lapisan atmosfer Jogja lebih dulu akan membakarnya. Jogja bagai sebuah dunia tersendiri. Penduduknya, menertawakan dunia.

JAKARTA. Kota dimana kami dilempari tai-tai dunia. Tanpa pelindung satupun, mendarat tepat di muka kami. Baiknya, kota ini tidak memberi kesempatan untuk menangis. Segera seka kotoran di muka dan badan, tegakkan muka dan kembali berjalan.

JOGJA. Kota dimana senyum dan tulus pujian diumbar ke semua orang. Gratis, tanpa pamrih.

JAKARTA. Sebuah kota yang mahal. Pujian pun harganya mahal. Kilau-kilau dunia harus menempel di tubuh kita. Kalau tidak punya kilauan, jangankan pujian, pandangan sebelah mata pun tidak akan diberikan. Baiknya, kita dituntut untuk berusaha keras hanya untuk sebuah tatapan.

JOGJA. Seakan waktu berhenti. Semua bisa dikerjakan dalam satu hari.

JAKARTA. Kota dimana waktu berjalan sangat cepat. Seakan dua puluh empat jam tidak cukup untuk mengerjakan semuanya. Hari Minggu, bergerak cepat kembali ke hari Minggu. Baiknya, Manusianya terlatih untuk memanfaatkan waktu. Mau tidak mau, bersahabat dengan waktu.

JOGJA. Bagai sebuah brwonies ganja. Memberi efek selalu gembira. Tertawa. Seakan hidup tanpa masalah, tanpa tekanan. Semua akan berjalan baik.

JAKARTA. Kota penuh dengan tekanan dan tuntutan. Penuh dengan lapisan standar yang harus dipenuhi. Penuh dengan lapisan masalah dan tantangan yang harus dilawan. Baiknya, manusianya menjadi menghargai momen-momen kecil yang ternyata membahagiakan. Bertemu sejenak dengan sobat lama setelah hari yang melelahkan, atau menikmati deretan lampu kota di kala malam. Sederhana, tapi menyenangkan.

Saya sudah menjadi manusia Jakarta. Saya sudah mulai terbiasa dengan tuntutan sekaligus keruwetannya. Saya sudah berlari kencang bersama kota ini. Mendongak tegak dan menjadi sombong. Tapi dari waktu ke waktu, saya selalu merindukan pulang ke Jogja. Dengan segala senyum lebar dan tawa lepasnya.

Tentang Durian dan Pakaian Dalam

Belakangan ini, semakin banyak orang yang menduga-duga apa agama saya. Ada yang bertanya terus terang, ada pula yang menyelubungkan keingintahuannya dalam kalimat-kalimat yang menggatung, sambil menunggu reaksi saya. Untungnya saya cukup pandai untuk membalas pertanyaan dengan pertanyaan, atau membalas kalimat menggantung dengan kalimat yang lebih menggantung. Jadilah kepenasaran mereka tetap menggantung terkatung-katung. Contohnya saat ada orang bertanya, ”Bayu agama kamu apa sih?”, maka saya akan menjawab, ”Menurut kamu apa?”. Kemudian saat si penanya bilang, ”Kamu beragama A.”, maka saya akan membalas dengan, ”oooh.”, dan mengalihkan pembicaraan ke topik lain, atau pergi.

Bahkan, ada satu teman kantor saya yang berpikir saya berencana akan pindah agama. Tidak bisa ia membendung rasa ingin tahu, suatu hari duduklah saya di depan meja kantornya. Lebih tepatnya, dengan bisik-bisik halus dia memanggil nama saya untuk duduk, saat saya sedang asik mencuil sepotong kecil dark chocolate yang terhidang di dekat mejanya. Jadilah saya ditanya-tanyai, dan diceramahi, sembari saya menjilati cokelat yang berlumuran di jari-jari. Namun seperti biasa, saya menunjukkan bakat saya, yaitu dengan mudah bisa menenggelamkan orang makin dalam ke dalam pemikirannya. Ke dalam apa yang sudah dipercaya oleh pikirannya, tanpa perlu mengatakan ”ya” atau ’tidak”. Biarkan mereka berasyik masyuk dengan asumsi-asumsi di kepala. Akhirnya, sepertinya semakin yakin dia bahwa saya akan pindah agama.

Pakaian Dalam
Tanpa mengurangi rasa hormat sedikit pun, bagi saya, agama seperti pakaian dalam. Ya, Pakaian dalam yang kita pakai sehari-hari. Fungsinya sangat penting untuk melindungi bagian-bagian yang paling pribadi dan paling personal dari diri kita. Bedanya, tentu saja pakaian dalam berfungsi untuk melindungi bagian penting dari diri kita yang sifatnya fisikal, sedangkan agama adalah lapisan pelindung spiritual. Laiknya pakaian dalam, agama seharusnya tidak perlu ditunjuk-tunjukkan ke orang lain. Keagamaan kita seharusnya bukan menjadi konsumsi publik, atau menjadi cara penarik perhatian publik, kecuali kita adalah seorang eksibisionis, baik fisikal maupun spritual.
Agama layaknya pakaian dalam, yang kita pilih dan pakai supaya kita merasa nyaman. Beberapa orang memeluk sebuah agama karena mereka anggap agamanya adalah yang paling logis. Ini aneh, karena awalnya konsep kepercayaan yang paling kuno terbentuk untuk menjawab segala fenomena yang tidak bisa dijawab oleh nalar manusia p
ada masa itu. Manusia purba tidak punya logika kenapa gunung bisa tiba-tiba meletus memuntahkan lahar. Maka dibuatkanlah bentuk-bentuk persembahan untuk menyenangkan, atau menenangkan sebuah kuasa yang jauh lebih besar dari kuasa mereka. Akan selalu ada sisi-sisi ajaran agama yang tidak rasional, tidak logis, dan tidak masuk akal. Karena jika semua bagiannya bisa dilogikakan, bukankah itu akan menafikan fungsi dasar agama itu sendiri? Agama ada karena kita percaya, tidak perlu ada alasan yang kena logika, cukup merasa nyaman saja.

Durian
Ada dua orang sahabat. Sebut saja nama mereka adalah Karib dan Kental. Gelombang pikiran mereka berada dalam frekwensi yang sama. Pun dukungan dan semangat selalu diberikan dari satu kepada yang lainnya. Hanya ada satu hal yang membedakan mereka, dan tidak dapat disatukan. Satu hal itu adalah durian. Karib adalah pecinta durian. Bagi Karib, durian adalah kepingan kecil surga yang jatuh ke dunia. Sedangkan bagi Kental, mencium baunya dari radius lima meter saja bisa membuat dia pingsan. Kenapa Karib suka durian? Jawabannya adalah karena rasanya enak. Kenapa Kental tidak suka durian? Jawabannya adalah karena baunya saja sudah tidak enak, bikin pusing, apalagi rasanya. ”Enak” dan ”Tidak Enak” adalah alasan mereka untuk suka dan tidak suka. ”Enak” dan ”Tidak Enak” berkaitan erat dengan pengalaman personal, sulit untuk digeneralisir, dan susah untuk dipecah lagi menjadi turunan-turunan parameter.
Karena Karib dan Kental bersahabat erat, haruskah Karib memaksa Kental untuk juga menyukai durian, hanya karena menurut Karib rasanya enak? Pun sebaliknya dari sisi Kental? Karib dan Kental tetap sepasang sahabat, terlepas dari satu dari mereka mencintai durian, sedangkan yang lain membencinya.
Agama layaknya durian. Kita percaya dengan alasan-alasan yang telah melewati lapisan pengalaman personal. Alasan-alasan yang tidak bisa digeneralisir, tidak bisa disamaratakan. Kita tidak bisa, dan tidak pantas, untuk meminta orang lain untuk mempercayai sesuatu, hanya karena kita mempercayainya. Namun layaknya Karib dan Kental, gelombang otak kita tetap bisa dalam frekwensi yang sama. Kita tetap saling menjaga punggung satu sama lain, meskipun kita percaya dua hal yang berbeda.

Atheis
Saya tidak percaya dengan bentuk institusi agama apapun. Saya juga memandang apatis para tokoh dan pemimpinnya. Tapi saya merasa saya tidak bisa menjadi atheis. Sama seperti manusia purba, saya ingin percaya bahwa ada kekuatan di luar kuasa yang membuat gunung meletus. Saya ingin percaya bahwa ada alasan di luar nalar supaya saya bisa bersuka cita atas rejeki dan jodoh, atau sebaliknya, dengan ikhlas berkata “belum rejeki”, “belum berjodoh”, atau “ada rencana yang lebih baik buat saya”. Ditengah segala keapatisan dan ketidakpercayaan saya atas dunia dimana saya tinggal sekarang, saya ingin percaya ada sebuah alasan kenapa kita harus bersusah-susah hidup. Saya mencintai The Beatles, tapi saya tidak bisa untuk imagine there’s no heaven, terlepas nanti saya akan tinggal disana atau tidak.

Balada Ronggeng

Srintil adalah seorang ronggeng. Ronggeng di sebuah padukuhan sederhana bernama dukuh Paruk. Penduduknya yang jumlahnya tidak seberapa hidup miskin lagi bodoh. Rambut mereka merah dengan kulit legam berdaki, terjerang matahari. Tubuh mereka kurus kering, tanda kurang asupan gizi. Tidak setiap hari mereka bisa makan nasi.

Srintil adalah seorang ronggeng. Ronggeng yang kecantikannya menyebar sampai ke pasar Dawuan. Ronggeng yang kecantikannya mendesirkan darah para pria. Ronggeng yang membuat para wanita memuja figurnya. Ronggeng yang kerlingan sudut matanya menantang iman para tuan tanah dan priyayi desa.

Srintil adalah seorang ronggeng. Ronggeng yang mendapat semua kemudahan dunia. Semenjak jadi ronggeng, Srintil tidak lagi serupa dengan warga dukuh Paruk lainnya. Rambut Srintil tebal, wangi, hitam legam. Kulitnya halus berwarna kuning. Seuntai kalung berbandul emas menjuntai sempurna di lehernya yang jenjang. Srintil tidur di ranjang, tidak lagi di bale-bale reyot dari anyaman bambu dan akar rotan.

Srintil adalah seorang ronggeng. Ronggeng yang menjadi penanda gempita dukuh Paruk. Dukuh Paruk yang gersang lagi terbelakang. Tugas ronggeng adalah menari dengan kenes disertai sabetan sampur. Bukan hanya itu, tugas ronggeng pulalah untuk fasih di urusan kasur. Menemani pria-pria dukuh paruk yang bau keringat itu tidur.

Srintil adalah seorang ronggeng. Ronggeng yang tidak lagi boleh punya rasa. Ronggeng harus selalu tersenyum di hadapan semua orang. Ronggeng tidak boleh menolak untuk menghibur walau badan kelelahan. Tidak boleh berhenti menari, karena seorang ronggeng tidak lebih dari sebuah komoditi.

Srintil adalah seorang ronggeng. Dan ronggeng sejatinya manusia biasa. Manusia biasa yang pada akhirnya ingin diperlakukan layaknya manusia. Srintil ingin dicintai oleh satu lelaki. Tetapi tidak bisa, karena Srintil adalah milik semua lelaki. Karena Srintil adalah seorang ronggeng, dan menjadi ronggeng adalah kontrak seumur hidup yang dibawa mati. Srintil adalah milik semua orang, sampai dia mati.

Kita bukan Srintil, dan kita bukan ronggeng. Kita adalah beragam manusia dengan beragam alur hidup, dan pekerjaan.Tapi, sedikit banyak, kita hidup bagaikan seorang ronggeng.

Siapa diantara kita yang tidak ingin tampil menarik?
Siapa diantara kita yang tidak ingin menjadi pusat perhatian?
Siapa diantara kita yang tidak ingin terlihat mempesona?
Siapa diantara kita yang tidak berlelah membentuk imej diri?
Siapa diantara kita yang tidak menghabiskan uang untuk bersolek?
Siapa diantara kita yang tidak ingin mendapatkan semua kemudahan dunia?

Siapa diantara kita yang terkadang tidak boleh menunjukkan rasa dihadapan orang lain?
Siapa diantara kita yang terkadang tidak punya pilihan?
Siapa diantara kita yang terkadang tidak boleh berhenti walau kelelahan?
Siapa diantara kita yang tidak boleh tidak tersenyum dihadapan orang lain?
Siapa diantara kita yang terkadang terjebak dalam hubungan-hubungan yang kompleks?
Siapa diantara kita yang hidupnya tidak menjadi milik beberapa orang? Atau semua orang?
Siapa diantara kita yang tidak menjadi komoditi?
Siapa diantara yang kita yang tidak menandatangani kontrak seumur hidup yang dibawa mati?

Kita, sedikit banyak, hidup bagaikan seorang ronggeng yang menawan. Hanya saja kita tidak perlu untuk bisa njoged, nembang, atau menghibur di atas kasur.


(terinspirasi dari trilogi ”Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari, dan film ”Sang Penari” karya Ifa Ifansyah)

Rabu, 21 Desember 2011

Marry Me or I’m Married The World

Kira-kira sebulan yang lalu, saya mendapat undangan pernikahan dari saudara sepupu saya. Sebetulnya bukan hanya sepupu saya saja yang mengirimkan udangan pernikahannya. Nampaknya, banyak pasangan yang ingin menalikan simpul mereka di hari baik tanggal cantik 11 November 2011, 11-11-11. Sebagai orang yang apatis dengan konsep pernikahan, tumpukkan undangan berhias kertas fancy dan berbau wangi itu akhirnya teronggok tak tersentuh di pojok meja kerja saya. Melirik pun saya enggan. Tentu saja saya tidak memunculkan batang hidung saya di hari paling bahagia bagi pasangan-pasangan ini.
Tentang pernikahan sepupu saya itu, awalnya saya berencana untuk tidak datang. Namun, sehari sebelum resepsi, ibu saya yang pengertian, berpikiran terbuka, dan suka memeriksa tingkah polah anak-anaknya lewat twitter itu menelepon saya. Dia menitahkan saya untuk datang ke acara pernikahan anak kakaknya. Saya diharapkan untuk menjadi representasi keluarga batih kami. Sebagai wanita yang melahirkan saya ke dunia dan membesarkan saya, harusnya ia tahu bahwa agak sia-sia menyuruh saya untuk datang ke sana dengan muka riang dan hati senang. Pertama, saya tidak bisa menikmati pesta pernikahan. Fakta bahwa ada dua orang mengadakan pesta seharga puluhan bahkan ratusan juta rupiah hanya untuk memproklamasikan legalitas hubungan mereka, entah kenapa tidak bisa diterima oleh logika saya. Tidak penting, menurut saya. Kedua, secara naluriah saya tidak berbakat untuk menjadi representasi sebuah kelompok atau golongan tertentu, apapun. Bahkan beberapa orang sering bertanya-tanya si Bayu agamanya apa.
Malam Minggu, pukul tujuh, datanglah saya ke pesta pernikahan sepupu saya. Dengan atasan batik dan bawahan celana jeans, celingak-celinguk saya, jelalatan mencari wajah-wajah yang saya harap bisa saya kenali. Beberapa menit berlalu sejak kedatangan saya, Yak, akhirnya saya bisa mengenali sepupu saya yang menikah itu. Sayangnya, saya mengenalinya bukan karena saya ingat wajahnya, tapi karena dia memakai jarik lurik, beskap, dan blangkon. Dari dandanannya dan posisinya yang berada di tengah altar, berasumsilah saya bahwa dia si mempelai pria, yang adalah sepupu saya. Baru beberapa menit datang, saya sudah gelisah ingin pulang. Sampai tiba-tiba saya dipanggil oleh salah satu om saya, yang kemudian menggiring saya untuk berkumpul dan bercengkarama dengan om-om, tante-tante, dan sepupu-sepupu, yang entah kenapa saya tidak merasa terikat secara batin. Ya, saya dan saudara-saudara kandung saya dibesarkan di pinggiran kota Solo, terpisah jauh dengan sepupu-sepupu kami yang tumbuh besar di kota besar. Jika dihitung, intensitas pertemuan kami dengan sepupu-sepupu kami juga masih kalah banyak dengan jumlah jari di tangan kanan saya. Jadilah kami, atau paling tidak saya, selalu merasa asing ditengah pertemuan dengan sepupu-sepupu. Wwalaupun begitu, di acara pernikahan itu interaksi diantara saya dengan keluarga tetap terjadi. Yaitu pertanyaan-pertanyaan basa-basi yang dengan jawaban tidak terlalu diharapkan. “Kerja dimana?, “tinggal dimana?”, “mamah sehat?”. Saling lempar senyum yang lebih tepatnya usaha menarik beberapa otot disekitar mulut. Serta jabat tangan yang lebih tepatnya saling menempelkan telapak secara cepat dan sekilas, bukan cengkeraman tangan yang kuat dan hangat. Sungguh, pada dasarnya saya merasa sangat tidak enak hati dengan ketidakpedulian saya, keapatisan saya, dan ketidakadaan usaha saya untuk mengenal dan berinteraksi dengan mereka lebih jauh. Tapi sungguh, saya bukan orang bisa berbasa-basi atau berpura-pura. Kalau saya lihat mereka tidak ada usaha, saya pun merasa juga tidak perlu berusaha. Satu-satunya orang yang bisa membuat saya nyaman adalah nenek saya, yang diusianya yang mendekati kepala delapan, masih suka minum coca-cola dan minuman bersoda lainnya. Nenek saya yang cukup sering saya kunjungi semenjak saya bekerja di Jakarta. Jadinya, duduklah saya disebelah nenek Paula, nenek saya, sambil bolak-balik membawakan cangkir kecil berisi coca-cola atau fanta untuk beliau. Tidak sampai sejam, saya meluncur pulang, dilanjutkan dengan menonton Tin-tin The Adventure, midnight, di bioskop. Saya sama sekali tidak bisa menikmati acara pernikahan.
Suatu hari, saya duduk berbincang sembari makan malam dengan teman saya. Di sesi curhat kami, dia banyak bercerita tentang kisah cinta dengan pacarnya, yang penuh haru biru dan sisi-sisi yang bisa diambil sebagai pembelajaran. Moment dimana dia ingin menikah, dimana dia bersabar menunggu, kemudian sampai pada suatu titik justru dia sudah tidak lagi terlalu ingin menikah. Dia menutup curhatnya dengan mengatakan sesuatu yang membuat saya berhenti mengunyah dan mengangguk-angguk tanda merespon ceritanya. Dia mengatakan : “I used to say, marry me or I’m married the world. And now I think I’m married the world already”.
Sudah sejak lama, saya tidak pernah memasukkan pernikahan ke dalam skala prioritas hidup saya. Saya masih tidak bisa melihat adanya adding value dari menikah atau mempunyai hubungan. Saya merasa menikah justru membuat orang menjadi banyak pertimbangan, membuat orang jadi ragu untuk melihat dunia. Padahal saya masih ingin melihat dunia. Masih banyak tempat-tempat menakjubkan yang ingin saya kunjungi. Masih ada puncak-puncak gunung yang ingin saya taklukkan. Pernah suatu hari, saya melihat pasangan muda yang sedang membeli bubble tea. Satu cup buble tea untuk berdua. Orang lain mungkin akan melihat mereka sebagai pasangan yang romantis. Saya, rasa yang muncul dalam benak justru rasa kasihan, dan berpikir untungnya saya tidak seperti mereka. Saya seringkali mengernyitkan dahi saat menerima undangan pernikahan dari orang-orang yang saya kenal, sembari berpikir kenapa mereka mau menikah secepat itu.

Yes, I think I’m married the world already.

Setelah ditelaah lagi, skala prioritas hidup saya diisi oleh target-target yang berhubungan dengan pekerjaan dan karir. Hari-hari saya habiskan dengan bekerja, menyusun dan membangun karir. Tidak pernah terbersit keinginan untuk dengan sengaja berkenalan dengan orang baru di sela-sela hari yang sibuk, dan berusaha membangun hubungan. Tidak ada ruang dalam pikiran saya dan slot dalam waktu saya untuk sebuah hubungan yang melelahkan. Saya sudah menjadi mempelai dunia. Dunia yang sejauh ini bisa membuat saya senang, sedih, gemas, marah, gembira, dan tertawa. Saya sudah menikah dengan dunia.
Mungkin, bisa saja suatu hari nanti saya berubah pikiran. Ingin memiliki hubungan yang lebih humanis, dan mempunyai alasan untuk siapa saya berlelah-lelah mengumpulkan uang. Satu yang pasti, jika saya menikah nanti, alasannya adalah karena saya menemukan orang yang membuat saya yakin untuk menghabiskan sisa hidup dengannya. Bukan karena alasan “semua orang menikah, maka saya juga harus menikah”, atau “saya tidak mau menjadi tua sendiri”, atau “saya harus meneruskan keturunan”, atau alasan-alasan lain yang terkait dengan kondisi dan tuntutan sosial. Menikah adalah kebahagiaan saya, bukan kebahagiaan orang lain. Jadi menjadi hak prerogatif saya untuk melakukannya, atau tidak melakukannya.
Menurut saya, menikah ibaratnya seperti secangkir kopi Starbucks di suatu pagi yang sibuk. Beberapa orang tidak bisa memulai hari dan bekerja dengan baik tanpa meminumnya. Tapi bagi beberapa orang lain, termasuk saya, ini hanya masalah apakah saya sempat untuk mampir membeli dan meminumnya dalam perjalanan ke kantor atau tidak. Karena saya yakin dengan atau tanpa meminumnya, hari saya akan berjalan baik-baik saja.
Marriage is like a cup of starbucks coffee. Some people can not start the day and doing well without drinking it. But for me, it’s only the matter of do I have time to stop by to buy and drinking it on my way to the office or not. Because with or without it, I believe my day still will be okay.

Have a great day everyone!! :D